Sabtu, 31 Januari 2015

Kau Tahu Aku

Kau tahu aku harus pandai menahan diri
Dunia tak pernah bisa menerima 
Jika aku maju selangkah mendahului kau

Kau tahu aku harus pandai mengalah
Dunia tak pernah bisa menerima
Jika aku tampak lebih kuat daripada kau

Kau tahu aku harus pandai merunduk
Dunia tak pernah bisa menerima
Jika aku menjulang lebih dari engkau

Aku hanya bisa menunggu, bukan karena aku tak bisa memulai
Bukan karena gengsi yang tinggi
Aku menunggu karena dunia inginkan aku begitu

Menjadi pajangan layaknya hiasan-hiasan yang lain
Yang hanya bisa dilihat, dan menjadi milik mereka yang ingin
Diletakkan dalam bingkai kaca, menunggu untuk dipilih

Aku bisa saja beruntung dipilih untuk selamanya
Aku bisa juga sial
Kau tahulah kenapa

Tapi aku harus tetap tegar, harus tetap kuat
Berjuang menajadi perhiasan terindah
Agar dipilih oleh kau yang berhati malaikat

Agar aku tidak lagi diperlakukan sebagai pajangan
Aku bisa berdiri di luar bingkai kaca
Bergandengan tangan denganmu, menyusuri lintasan yang telah kau pilih

Minggu, 25 Januari 2015

Menjadi seorang pemikir..

Menjadi seorang pemikir tak lantas menjadikanmu seseorang yang pintar. Menjadi seorang pemikir tak lantas menjadikanmu orang yang bijaksana. Menjadi seorang pemikir tak lantas menjadikanmu dewasa dibandingkan dengan yang lain.

Menjadi seorang pemikir akan memberikanmu tanggung jawab yang lebih ketika hendak berbicara. Menjadi seorang pemikir akan memberikanmu tanggung jawab yang lebih ketika hendak bertindak. Menjadi seorang pemikir memberikan peluang yang lebih banyak untuk diam daripada berkarya.

Menjadi seorang pemikir bukanlah sebuah keuntungan. Menjadi seorang pemikir bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Menjadi seorang pemikir harus siap menanggung beban, beban pikiranmu sendiri.

Menjadi seorang pemikir tak lantas menjadikanmu penjahat hanya ketika selintas kau ingin membunuh seseorang. Menjadi seorang pemikir tak lantas menjadikanmu penipu hanya ketika selintas kau ingin membohongi orang lain. Menjadi seorang pemikir tak lantas menjadikanmu pahlawan hanya ketika selintas kau ingin menyelamatkan nyawa orang lain.

"Cogito ergo sum." -Descartes

Aku berpikir maka aku ada. Tapi apa kau hanya ingin diakui keberadaannya? Hanya sebatas itukah cita-cita hidupmu? Terserah saja. Tapi aku memilih untuk berbuat lebih daripada hanya menjadi seorang pemikir. Aku sudah cukup dengan beberapa orang saja yang merasakan dan mengakui keberadaan diriku. Tapi aku tidak akan pernah merasa cukup jika diriku belum memberi kebermanfaatan kepada seluruh insan yang ada di dunia ini. Mustahil? Ya, semustahil aku yang ingin diam tak melakukan apa-apa hanya karena aku sudah merasa puas.

Aku bukan seseorang yang lahir dengan latar belakang yang membuat orang iri. Aku bukan seseorang yang tumbuh dengan pencapaian prestasi yang bisa membuat orang berdecak kagum. Terlebih lagi aku bukan seseorang yang lahir dengan kemampuan diatas manusia rata-rata.

Terkadang aku pun jatuh dan terlempar keluar dari jalur yang telah kubuat. Terkadang aku pun ragu ingin melanjutkan dan ingin menyerah saja. Manusia memang seperti itu. Manusia biasa memang seperti itu. Tapi jangan jadi manusia biasa. Karena manusia biasa akan tenggelam bersama dengan 7 miliar manusia yang tercatat tinggal di bumi ini. Manusia luar biasa akan bangkit walau dalam keadaan sakit. Akan bangkit walau dalam keadaan lelah. Ia hanya akan berhenti hanya ketika Sang Pencipta telah memanggilnya.

Menjadi seorang pemikir akan menjadikanmu orang penting hanya ketika setiap tindakanmu menyelamatkan satu jasad. Entah jasad yang berada dalam waktu dan ruang yang sama. Entah pula jasad yang kebetulan berada dalam waktu dan ruang yang berbeda tapi terhubung dalam tali takdir yang telah digariskan. Kita tidak akan pernah tau sampai sejauh apa tindakan kita mempengaruhi hidup orang lain. Kita tidak perlu tahu itu. Kita hanya perlu tahu bagaimana berbuat kebaikan semaksimal mungkin sebagai bentuk pengabdian tertinggi terhadap Sang Pencipta. 

Sabtu, 10 Januari 2015

The Moment of Silence

"...Pernah nggak merasakan udah ketiduran dan siap-siap merem, tapi kepala ini nggak mau berhenti mikir? That's why Imiss the forgettable art of doing nothing, Ale. Cuma duduk bengong bosan. So do not underestimate the sheer joy of being bored. Sometimes it's a  luxury." (Natasha, Ika. Critical Eleven, 2013)

Kutipan dari salah satu cerita dalam Buku Kumpulan Cerpen Autumn Once More yang barusan aku baca, kutipan yang menggambarkan keadaanku saat ini. Atau mungkin keadaanku selama ini. Sebuah keadaan dimana hanya akan dialami oleh orang-orang yang tidak bisa diam.

Konsekuensi yang harus diambil oleh orang yang tidak bisa diam dalam hidupnya adalah pikirannya pun tidak akan bisa diam sekalipun sedang beristirahat. Mungkin tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak pernah merasakan mimpi. Tapi aku rasa aku adalah contoh pemimpi yang tergolong akut. Aku bisa mimpi dalam waktu tidur yang kurang dari lima menit. Dan dalam mimpi itu aku berpikir.

Awalnya aku berpikir diriku ini keren. Hal yang aku alami di dunia nyata bisa dengan mudah aku rekayasa dalam mimpi yang serupa. Sehingga terkadang ketika aku menghadapi sebuah persoalan aku hanya perlu mencari solusinya di dunia mimpi. Dan ketika bangun aku hanya tinggal mewujudkan solusi itu.

Hingga kemudian aku lelah. Karena terkadang solusi itu tidak bisa ditemukan dalam satu mimpi saja. Aku harus merekayasa banyak mimpi. Mungkin di antara kalian ada yang pernah merasakan Inception. Ya aku melakukan metode mimpi itu jika aku dihantui beban pikiran yang banyak. Sampai akhirnya bangun dengan susah payah karena terlalu banyak tingkatan mimpi.

The moment of silence. Just a very little time i need to stop thinking about anything. To stop worrying about everything. I need those moment of silence. A break time. 

Tapi lagi-lagi aku adalah orang yang tidak bisa tinggal diam. Aku menerima semua omongan orang lain yang ditujukan kepadaku. I think about what other people think about me.

Tapi lagi-lagi aku adalah orang yang tidak bisa tinggal diam. Aku menerima semua tantangan yang diberikan orang lain kepadaku. I just don't want to be seen as weak person.

Tapi lagi-lagi aku adalah orang yang tidak bisa tinggal diam. Sehingga saat ini aku benar-benar merasa butuh waktu untuk berhenti. Jika orang lain berkata liburan mereka lumutan dan mageran menjadi hal yang umum didengar saat liburan panjang. Aku hanya akan menemukan diriku berdiri di kereta dalam perjalananku, atau duduk di kendaraan umum menatap ke arah jam tangan takut agenda hari itu kacau balau.

I am a dreamer. I am a thinker. I am a person who like travels. And i need those moment of silence to stop my self from being those kind of people. 

Selasa, 23 Desember 2014

The Dreamer

Jika bicara soal mimpi memang tak akan ada habisnya. Aku ingin itu.. Aku ingin ini.. Aku ingin ini itu semua banyak sekali~ Yah dia jadi nyanyi.. Tapi bener deh kita harus bermimpi kemudian biarkan Tuhan memeluk mimpi-mimpi kita. Setelah itu apa? Setelah itu usaha! Inilah yang membedakan mimpi dengan bualan. Usaha yang membedakan mimpi dengan bualan. Jadi jelaslah mengapa Rasulullah membenci pembual karena mereka hanya berangan-angan tanpa usaha.

Mimpi itu penting. Jangan bermain-main dengan mimpi. Kalau aku pribadi, perjuanganku dalam meraih mimpi merupakan bentuk syukur aku diberi kesempatan dilahirkan di dunia ini. Syukur kan bisa diwujudkan dalam bentuk apapun. Dan aku ingin bersyukur dengan membuat orang lain ingat bahwa nikmat Allah tak terbatas. Maaf melenceng dikit tapi ini penting untuk dibahas. Hal pertama yang harus dilakukan oleh "The Dreamer" setelah mereka bermimpi adalah mencari motivasi. Motivasi yang akan menjadi bahan bakar setiap kali mesin-mesin usaha kehilangan gairahnya.

"Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa." -Donny Dirgantoro, 5 cm.

Mimpi itu harus ditulis saudara-saudara. Jadikan ia tulisan sehingga kamu yakin mimpi itu bisa berwujud nyata bukan cuma mengambang di alam pikiranmu saja. Ikat dia dalam tulisan sehingga kamu terus menerus ingat bahwa ada mimpi yang harus kamu raih. Aku selalu semangat menulis mimpi, karena pada akhirnya nanti kamu akan merasa takjub betapa dirimu itu penuh dengan optimisme. Tak hanya itu kamu bisa baca mimpimu untuk meredakan gemuruh badai kegalauan.

Jika mimpi kamu besar, usahanya pun harus sama besar atau lebih besar lagi. Yakinkan Tuhan dengan usahamu. Yakinkan orang tuamu dengan tekadmu. Sampai mereka berdoa, mendoakanmu agar semua mimpimu itu tercapai. Jadilah pemenang dalam hidupmu sendiri. Bukan pecundang yang saking takutnya bermimpi pun dia enggan. Mustahil adalah kata yang haram diucapkan seorang pemimpi.

"Bermimpilah setinggi langit... Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang."- Soekarno

Satu hal lagi ciri seorang pemimpi. Pemimpi adalah pemberani. Dia berani keluar dari zona nyaman dirinya sendiri bahkan zona nyaman orang lain. Pemimpi tidak takut pada ketidaknyamanan karena yang ia takutkan adalah mimpi yang tidak tercapai dan Tuhannya. Menurutku bermimpi bukan lagi soal realistis atau tidak. Bermimpi adalah soal seberapa besar usahamu melewati batas-batas kemungkinan yang dipahami oleh orang awam. Jadikan IMPOSSIBLE jadi I'M POSSIBLE.


Sabtu, 13 Desember 2014

Aku

Aku.

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap merajang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Karya Chairil Anwar

Aku bukanlah seseorang yang hidup dengan mencucur dan mengangguki setiap perkataan orang lain. Aku hidup dengan pikiranku sendiri. Aku hidup dengan tangan dan kaki yang kugerakan sendiri. Tapi aku tidak bisa hidup tanpa hati yang selalu meresah, dan merindu.

Apa yang aku lihat aku rekam. Apa yang aku baca aku tulis. Apa yang aku rasa aku bicara. Dalam pergerakan diam berarti berkhianat. Dan aku sedang bergerak untuk melepas perih. Maka aku takkan diam sekalipun seluruh dunia menentang aku tak akan berhenti hingga Ia berkata cukup.