"...Pernah nggak merasakan udah ketiduran dan siap-siap merem, tapi kepala ini nggak mau berhenti mikir? That's why Imiss the forgettable art of doing nothing, Ale. Cuma duduk bengong bosan. So do not underestimate the sheer joy of being bored. Sometimes it's a luxury." (Natasha, Ika. Critical Eleven, 2013)
Kutipan dari salah satu cerita dalam Buku Kumpulan Cerpen Autumn Once More yang barusan aku baca, kutipan yang menggambarkan keadaanku saat ini. Atau mungkin keadaanku selama ini. Sebuah keadaan dimana hanya akan dialami oleh orang-orang yang tidak bisa diam.
Konsekuensi yang harus diambil oleh orang yang tidak bisa diam dalam hidupnya adalah pikirannya pun tidak akan bisa diam sekalipun sedang beristirahat. Mungkin tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak pernah merasakan mimpi. Tapi aku rasa aku adalah contoh pemimpi yang tergolong akut. Aku bisa mimpi dalam waktu tidur yang kurang dari lima menit. Dan dalam mimpi itu aku berpikir.
Awalnya aku berpikir diriku ini keren. Hal yang aku alami di dunia nyata bisa dengan mudah aku rekayasa dalam mimpi yang serupa. Sehingga terkadang ketika aku menghadapi sebuah persoalan aku hanya perlu mencari solusinya di dunia mimpi. Dan ketika bangun aku hanya tinggal mewujudkan solusi itu.
Hingga kemudian aku lelah. Karena terkadang solusi itu tidak bisa ditemukan dalam satu mimpi saja. Aku harus merekayasa banyak mimpi. Mungkin di antara kalian ada yang pernah merasakan Inception. Ya aku melakukan metode mimpi itu jika aku dihantui beban pikiran yang banyak. Sampai akhirnya bangun dengan susah payah karena terlalu banyak tingkatan mimpi.
The moment of silence. Just a very little time i need to stop thinking about anything. To stop worrying about everything. I need those moment of silence. A break time.
Tapi lagi-lagi aku adalah orang yang tidak bisa tinggal diam. Aku menerima semua omongan orang lain yang ditujukan kepadaku. I think about what other people think about me.
Tapi lagi-lagi aku adalah orang yang tidak bisa tinggal diam. Aku menerima semua tantangan yang diberikan orang lain kepadaku. I just don't want to be seen as weak person.
Tapi lagi-lagi aku adalah orang yang tidak bisa tinggal diam. Sehingga saat ini aku benar-benar merasa butuh waktu untuk berhenti. Jika orang lain berkata liburan mereka lumutan dan mageran menjadi hal yang umum didengar saat liburan panjang. Aku hanya akan menemukan diriku berdiri di kereta dalam perjalananku, atau duduk di kendaraan umum menatap ke arah jam tangan takut agenda hari itu kacau balau.
I am a dreamer. I am a thinker. I am a person who like travels. And i need those moment of silence to stop my self from being those kind of people.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar