Minggu, 25 Januari 2015

Menjadi seorang pemikir..

Menjadi seorang pemikir tak lantas menjadikanmu seseorang yang pintar. Menjadi seorang pemikir tak lantas menjadikanmu orang yang bijaksana. Menjadi seorang pemikir tak lantas menjadikanmu dewasa dibandingkan dengan yang lain.

Menjadi seorang pemikir akan memberikanmu tanggung jawab yang lebih ketika hendak berbicara. Menjadi seorang pemikir akan memberikanmu tanggung jawab yang lebih ketika hendak bertindak. Menjadi seorang pemikir memberikan peluang yang lebih banyak untuk diam daripada berkarya.

Menjadi seorang pemikir bukanlah sebuah keuntungan. Menjadi seorang pemikir bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Menjadi seorang pemikir harus siap menanggung beban, beban pikiranmu sendiri.

Menjadi seorang pemikir tak lantas menjadikanmu penjahat hanya ketika selintas kau ingin membunuh seseorang. Menjadi seorang pemikir tak lantas menjadikanmu penipu hanya ketika selintas kau ingin membohongi orang lain. Menjadi seorang pemikir tak lantas menjadikanmu pahlawan hanya ketika selintas kau ingin menyelamatkan nyawa orang lain.

"Cogito ergo sum." -Descartes

Aku berpikir maka aku ada. Tapi apa kau hanya ingin diakui keberadaannya? Hanya sebatas itukah cita-cita hidupmu? Terserah saja. Tapi aku memilih untuk berbuat lebih daripada hanya menjadi seorang pemikir. Aku sudah cukup dengan beberapa orang saja yang merasakan dan mengakui keberadaan diriku. Tapi aku tidak akan pernah merasa cukup jika diriku belum memberi kebermanfaatan kepada seluruh insan yang ada di dunia ini. Mustahil? Ya, semustahil aku yang ingin diam tak melakukan apa-apa hanya karena aku sudah merasa puas.

Aku bukan seseorang yang lahir dengan latar belakang yang membuat orang iri. Aku bukan seseorang yang tumbuh dengan pencapaian prestasi yang bisa membuat orang berdecak kagum. Terlebih lagi aku bukan seseorang yang lahir dengan kemampuan diatas manusia rata-rata.

Terkadang aku pun jatuh dan terlempar keluar dari jalur yang telah kubuat. Terkadang aku pun ragu ingin melanjutkan dan ingin menyerah saja. Manusia memang seperti itu. Manusia biasa memang seperti itu. Tapi jangan jadi manusia biasa. Karena manusia biasa akan tenggelam bersama dengan 7 miliar manusia yang tercatat tinggal di bumi ini. Manusia luar biasa akan bangkit walau dalam keadaan sakit. Akan bangkit walau dalam keadaan lelah. Ia hanya akan berhenti hanya ketika Sang Pencipta telah memanggilnya.

Menjadi seorang pemikir akan menjadikanmu orang penting hanya ketika setiap tindakanmu menyelamatkan satu jasad. Entah jasad yang berada dalam waktu dan ruang yang sama. Entah pula jasad yang kebetulan berada dalam waktu dan ruang yang berbeda tapi terhubung dalam tali takdir yang telah digariskan. Kita tidak akan pernah tau sampai sejauh apa tindakan kita mempengaruhi hidup orang lain. Kita tidak perlu tahu itu. Kita hanya perlu tahu bagaimana berbuat kebaikan semaksimal mungkin sebagai bentuk pengabdian tertinggi terhadap Sang Pencipta. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar